Oleh Imam Pratomo, M.HI
Dosen Prodi Siasyah Institut Agama Islam Sains Teknologi Alquran Deliserdang Sumatera Utara Medan, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Medan dan Staf Pengajar PPMDH TPI
Mengawali dari tulisan yang sederhana ini, penulis ingin mengajak kita semua agar tidak lalai untuk selalu mengingat Allah SWT. Sebab dengan mengingat Allah SWT hidup yang kita jalani ini akan selalu senantiasa bermakna mewarnai kebahagiaan, itulah tantangan buat kita hamba Allah SWT. Semua orang pasti ingin selalu bahagia dan tidak pernah menginginkan kesengsaraan walau sejenak. Semua orang ingin senantiasa beruntung dan berusaha maksimal menghindari kerugian, namun apa hendak dikata, fakta berbicara lain. Tidak semua yang diinginkan manusia di dunia ini terwujud, terkadang apa yang justru dihindari menjadi fakta yang harus diterima, meski terasa pahit. Kerugian terus mendera.
Kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang berbeda-beda, mulai dari sikap ekstrim sampai yang biasa-biasa saja. Terkadang sikap itu justru mendatangkan kerugian atau penderitaan baru, seperti bunuh diri , merusak harta-benda, mencederai diri sendiri atau mencederai orang lain. Tapi ada juga yang menyikapi dengan santai, tenang dan penuh kesabaran. Dia menyadari bahwa kerugian yang dialami di dunia ini bukanlah kerugian hakiki, bukan kerugian yang akan mendatangkan penderitaan abadi itu bukanlah kerugian yang disebutkan oleh Allah SWT dalam fiman-Nya “Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15).
Karugian yang disebutkan dalam ayat di atas itulah kerugian yang hakiki, yang akan menyebabkan penyesalan yang kekal. Kerugian pada Hari Kiamat adalah kerugian di saat kebaikan dan keburukan manusia ditimbang dengan timbangan teradil yang tidak mengandung kecurangan sama sekali.
Semoga Allah SWT menyelamatkan kita semua dari kerugian tersebut. Kerugian pada Hari Kiamat juga merupakan akibat dari perbuatan kita selama hidup di dunia. Jika kesempatan hidup ini bisa kita manfaatkan dengan baik dan maksimal, sebagaimana seorang pebisnis memanfaatkan modal usahanya yang sangat terbatas untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, maka Insya Allah kita akan terselamatkan dari kerugian tersebut. Kerugian terburuk yang menimpa seseorang adalah kerugian yang menimpa agamanya, karena kerugian ini akan menyebabkan penderitaan abadi di akhirat. Kerugian yang menimpa agama seseorang merupakan musibah terparah bagi seseorang. Oleh karena itu, diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “Janganlah Engkau menjadikan musibah pada agama kami”.
Diantara ciri orang yang menderita kerugian dengan kerugian hakiki adalah ia melalaikan kesempatan beramal shaleh dalam kehidupannya.
Dia membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja, sehingga akhirnya saat kematian tiba, amal kebaikan yang pernah dilakukannya masih sedikit, sementara keburukannya menggunung. Termasuk orang-orang yang merugi pada Hari Kiamat adalah orang yang hanya beribadah kepada Allah SWT di saat dia mendapatkan anugerah kebaikan, di saat hidupnya nyaman, disaat hidupnya enak dan makmur atau dia beribadah kepada Allah SWT disaat apa yang dilakukan itu bisa mendatangkan keuntungan atau kebaikan duniawi. Allah SWT Berfirman : “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).
Termasuk merugi juga yaitu orang yang dilalaikan oleh harta dan keluarga sehingga tidak bisa beribadah kepada Allah. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menyebutkan kata merugi dan hal-hal yang menyebabkan kerugian. Ini semua dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak tertimpa kerugian yang mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan lagi abadi dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
Penutup
Akhir dari tulisan ini, hendaklah kita sadar bahwa kehidupan yang kita jalani ini dapat berbuah manis dan jangan mengalami kerugian apalagi kerugian hakiki (akhirat). Sangat tepat dalam momen menyambut Tahun Baru Islam ini 1437 Hijriyah, kita hijrah dari yang buruk kebaik, dari yang baik ke lebih baik lagi, itulah standarisasi ke imanan kita kepada Allah SWT dengan melakukan perubahan. Firman Allah SWT “ Jikalau suatu penduduk negeri ini beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, niscaya kami turunkan berkah dari langit dan bumi”. Semoga kita semua menjadi insan-insan yang tidak mengalami kerugian hakiki. Fastabiqul Khairat.